” kematian adalah kafarat bagi setiap muslim “

September 19, 2011

aku merasa takut terhadap apa yang terjadi di balik kubur, jika Engkau tidak mengampuni aku, tentu kubur itu menjadi sangat sempit dengan api yang menyala-nyala

ketika aku datang dihari kiamat disambut oleh malaikat penghalau yang sangat kasar lalu menggiringku

sungguh celakalah anak cucu Adam yang berjlan menuju ke neraka dengan terbelenggu rantai-rantai neraka

berdirilah di atas kubur, tataplah hamparan permukaannya lalu katakan siapakah diantara Anda (wahai penghuni kubur) yang terperangkap dalam kegelapannya

dan siapakah diantara Anda yang dimuliakan di dalam liang kubur, sungguh ia benar-benar merasakan dan kesejukan dan keamanan dari ketakutannya

kedamaian bagi orang yang mempunyai mata adalah satu, kelebihan dan perbedaan derajat-derajatnya tidak jelas

seandainya mereka dapat menjawab pertanyaan itu, tentu mereka akan mengkhabarkan dengan lisannya, menjelaskan tentang kondisi dan keadaan yang sebenarnya
 

Dan Hari Ini Engkau

September 15, 2011
lembut suara seruling entah siapa gerangan yang meniup
bak tetes embun tatkala kau terjaga
tak ada lagi tanda tanya “apakah esok bakal jadi milikmu?”

dan sinar matahari merangkak bangkit tinggalkan kaki langit
menyongsong hari ini yang penuh harapan
berkemaslah tinggalkan masa silam yang dibelenggu kegelapan

marilah kita bersyukur bersama-sama ucap alhamdulillah
dan kita peringati setiap kali dengan dzikrullah
kita buka langkah baru lembar-lembar keindahan dengan bismillah

dan hari ini Engkau deng...
Continue reading...
 

pray

September 13, 2011

اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك


Continue reading...
 

JUST AS I AM 

baru kini aku mengerti masa lalu yang kujalani tentukan apa ku kini
titik-titik jalan hidupku terhubungkan satu-satu jadi gambaran diriku

di saat hening mencekam terdiam ku menyingkap sebuah "rahasia semesta"
coretan ini adalah hasil  dari copy paste atas apa yang kulihat, kudengar dan kurasa,
semoga berkenan dan Insya Alloh bisa memberi manfaat untuk kita
Follow doblankplankton on Twitter

doblank plankton

just as I am

" Maksiat Lebih Baik Ketimbang Taat "

Maksiat yang melahirkan sikap hina dina di hadapan Allah itu lebih baik ketimbang ketaatan kepada Allah yang melahirkan sikap merasa mulia dan sombong.”

Sebesar apa pun kemaksiatan dan dosa seseorang, jika memasuki pintu taubat, Allah tetap menyambutnya dengan pintu mpunan yang agung, bahkan dengan kegembiraanNya yang Maha dahsyat kepadamu.

Karena sebesar langit dan bumi ini, jika anda penuhi dengan dosa-dosa anda, dikalikan lagi dengan lipatan jumlah penghuni planet ini, kelipatan dosa itu, sesungguhnya ampunan Allah masih lebih besar dan lebih agung lagi.

Oleh sebab itu Ibnu Athaillah membesarkan hati orang yang telah berbuat dosa agar tidak putus asa terhadap ampunan Allah, bahkan orang yang berdosa namun bertobat dengan penuh rasa hina dina dihadapan Allah itu dinilai lebih baik, dibanding orang yang ahli ibadah yang merasa hebat, merasa suci, merasa paling mulia dan merasa sombong dengan ibadahnya

Mengapa ? Karena ada dosa yang lebih tinggi lagi dibanding maksiat, yaitu dosanya orang takjub atau kagum pada diri sendiri. Bahkan Rasulullah saw. Bersabda : “Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, niscaya yang paling saya takutkan pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi, yaitu ‘ujub (kagum pada diri sendiri).”

Bahkan betapa banyak orang yang dulunya ahli maksiat lalu diangkat derajatnya menjadi manusia mulia di hadapan Allah Ta’ala. Begitu juga banyak ahli ibadah tetapi berakhir hina di hadapanNya gara-gara ia sombong dan merasa lebih dibanding yang lainnya.
Orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar, apakah ia aktivis muslim, da’I, ustadz, kyai, ulama’, muballigh, ketika mereka menyerukan amar ma’ruf nahi mungkar, lantas dirinya merasa lebih baik dari yang lain, adalah wujud kesombongan yang hina pada dirinya.

Dibanding seorang preman yang bertobat, pelacur yang bertobat, maling yang bertobat dengan kerendahan jiwa di hadapan Allah, mereka yang merasa paling Islami itu justru menjadi paling hina, jika ia tidak segera bertobat.

Nabi Adam as, mendapatkan kemuliaan luar biasa sebagai Nabi, Rasul, Khalifah, Abul Basyar, justru ketika sudah turun di muka bumi, karena tindak dosanya di syurga. Namun Nabi Adam bertobat dalam remuk redam jiwanya dan hina dina hatinya di depan Allah, justru Allah mengangkat dan menyempurnakan ma’rifatnya ketika di dunia, bukan ketika di syurga dulu.

Nabi Adam as, menjadi Insan Kamil ketika di dunia, bukan ketika di syurga. Oleh sebab itu terkadang Allah mentakdirkan maksiat pada seorang hamba dalam rangka agar si hamba lebih luhur dan dekat kepada Allah. Wacana ini dilontarkan agar manusia tidak putus asa atas masa lalu dan nodanya di masa lampau, siapa tahu, malah membuat dirinya naik derajat.

Wacana ini pula tidak bisa dipandang dengan mata hati, nafsu dan hasrat hawa. Misalnya, “Kalau begitu maksiat saja, siapa tahu, kita malah naik derajat…” Kalimat ini adalah kalimat yang muncul dari hawa nafsu!

Wacana mengenai naiknya derajat paska maksiat, hanya untuk orang yang sudah terlanjur maksiat, agar tidak putus asa dan tetap menjaga rasa baik sangka kepada Allah Ta’ala (husnudzon).
Apalagi di akhir zaman ini, jika disurvey, membuktikan bahwa orang yang kembali kepada Allah dengan taubatnya, biasanya didahului oleh kehidupan yang hancur-hancuran, maksiat yang bernoda.

Akhir zaman ini juga banyak dibuktikan, khususnya di wilayah kota, betapa banyak orang yang merasa bangga diri dengan ahli ibadahnya, ketekunan dan taatnya, diam-diam ia ujub dan sombong, merasa lebih dibanding lainnya.

Sifat hina dina adalah wujud kehambaan kita. Manusia akan sulit mengakui kehambaannya manakala ia merasa mulia, merasa sombong, ujub, apalagi merasa hebat dibanding yang lainnya.

Karena itu rasa hina dina, apakah karena diakibatkan oleh kemaksiatan atau seseorang mampu menjaga rasa hina dina di hadapan Allah, adalah kunci terbukanya Pintu-pintu Allah Ta’ala, karena kesadaran seperti itu, membuat seseorang lebih mudah fana’ di hadapanNya.

Posted 779 weeks ago

Recent Posts