Saatnya Peduli Ibu dan Generasi
Posted by doblank plankton on Thursday, December 22, 2011
Under: refleksi
Kesadaran akan pentingnya tugas-tugas ibu yang tak tergantikan oleh siapapun ini, bahkan sudah menjadi trend di negara maju sejak lama. Di Amerika (yang sering menjadi barometer penggiat Feminisme), gerakan keluar rumah mulai ditinggalkan oleh kaum perempuan. Mereka berbondong-bondong memutuskan back to family. Berawal dari meluasnya sindrom Cinderella Complex, yakni perasaan akan kegamangan sebagai “public woman”, bermunculanlah organisasi-organisasi yang mendukung kembalinya kaum ibu kepada tugas domestik, sebagai pengatur rumah tangga dan pendidik utama anak-anak.
Mula-mula muncul Moms Offering Mom Support Club yang berdiri sejak 1983. Lalu Yayasan Mothers at Home yang
berdiri 1984, Mothers & More tahun 1987 dan masih banyak lagi. Tak
heran jika angka statistic partisipasi perempuan dalam karier di ranah
public terus menurun (USA Today, 10/05/1991).
Di negeri ini, Majelis Ulama Indonesia pernah mengkampanyekan Gerakan Kembali ke Rumah pada tahun 2004 (Republika,
16/12/04). Sayang, gaungnya ditenggelamkan oleh jargon yang
didengungkan oleh para aktivis perempuan. Entah tidak mengapa, adanya
titik balik perjuangan kaum Feminis internasional yang terbukti telah
gagal mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan tidak dijadikan
pelajaran bagi Feminis di tanah air untuk merevisi gerakannya.
Akibatnya,
Feminis di tanah air masih juga dengan lantang mengajak kaum ibu untuk
berbondong-bondong keluar rumah dan mencari eksistensi diri di ruang
publik. Dengan dalih kemandirian, khususnya kemandirian ekonomi, kaum
perempuan dipaksa meninggalkan tugas dan kewajibannya sebagai ibu,
pengatur rumah tangga sekaligus pendidik anak-anak.
Betapa tidak, kini lebih banyak anak-anak yang dibesarkan di Tempat Penitipan Anak (TPA), play group,kindergarten dan
sejenisnya. Anak-anak tumbuh berkat sentuhan baby sitter dengan imbalan
rupiah yang menggiurkan, bukan di tangan ibunya dengan penuh kasih
sayang dan keikhlasan serta gratis. Maklum, ibu yang semakin sibuk hanya
punya waktu akhir pekan saja untuk memperhatikan buah hatinya. Itupun
kalau tidak ada PR dari kantor atau tidak dinas ke luar kota.
Ibu-ibu
juga semakin merasa benar dan tenang keluar rumah karena diperkuat oleh
apologi yang salah kaprah, seperti “saya bekerja kan juga demi anak”
atau “yang penting kan kualitas, bukan kuantitas.”Ah, benarkah anak-anak
yang masih kecil-kecil itu mereka tanya dan memang menghendaki
ditinggal ibunya? Juga, benarkah kualitas dapat dicapai tanpa
memperhatikan kuantitas? Sebuah asumsi yang layak diperdebatkan
kebenarannya.
Potret Buram Anak
Terabaikannya
peran ibu sebagai pelahir generasi dan pendidik utama anak-anak, telah
melahirkan sisi-sisi kelam dunia anak. Memang, terabaikannya peran ibu
bukanlah “penyebab” tunggal, karena ada faktor sistemik seperti
lingkungan dan negara yang berpengaruh. Namun fakta membuktikan, banyak
anak-anak “gagal” lahir dari sebuah rumah tangga dimana tidak ada figur
sentral sebagai pendidik.
Ketika
kedua orang tua sama-sama sibuk mencari nafkah, ketika seorang ibu
mengalihkan tugas pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya kepada pihak
lain, lahirlah generasi-generasi bermasalah yang haus akan kasih sayang.
Ya, kepribadian anak-anak dewasa ini cenderung labil, semakin tidak
cerdas dan bahkan cenderung liar.
Kasus
bunuh diri pada anak-anak, bahkan balita adalah contohnya. Selanjutnya
anak-anak banyak yang terlibat seks bebas, narkoba, hamil di luar nikah,
aborsi, hingga tindak kriminalitas. Bayangkan, di Kediri anak usia 12
tahun membunuh balita berusia 4 tahun. Dari mana inspirasi membunuh itu
ia peroleh? Apakah orang tuanya mengajarkan? Tentu tidak.
Semua
itu terjadi karena anak-anak kurang mendapatkan pelajaran dari orang
tuanya, khususnya ibu. Sementara banyak sekali “pelajaran” yang ia serap
dari mana saja, khususnya di luar rumah. Anak yang belum sempurna
akalnya itu, sejatinya membutuhkan bimbingan untuk memilih mana yang
benar dan mana yang salah. Ironisnya, ”bimbingan” itu mereka serap dari
sumber yang salah. Entah dari teman-teman, artis idolanya, majalah, buku
atau bahkan televisi.
Kembalikan Fungsi Keluarga dan Ibu
Ketika
lahir, seorang anak merupakan makhluk yang tidak berdaya dan amat
tergantung pada orang yang terdekat dengan dirinya. Dan, idealnya orang
terdekat itu adalah ibunya. Menurut Neuman (1990) usia 20-22 bulan
merupakan masa penting hubungan ibu-anak dan pembentukan diri individu,
yang disebut Neuman primal relationship. Dalam pandangan ahli
social learning maka apa yang dilakukan oleh ibu terhadap anaknya
merupakan proses yang diadopsi oleh si anak melalui prosessocial-modelling.
Bagaimana cara ibu mengasuh, apakah dengan penuh kelembutan dan kasih
sayang atau apakah dengan kasar dan amarah serta penolakan akan
membentuk perilaku manusia muda tersebut.
Begitu
penting peran keluarga khususnya ibu dalam membentuk karakter anak
sejak dini bahkan sejak ia di dalam kandungan. Keluarga memiliki peran
yang besar disamping sekolah dalam memberikan pengetahuan tentang nilai
baik dan buruk kepada anak-anaknya. Keluarga pulalah wadah dimana anak
dapat menerapkan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah, maupun di
institusi keagamaan. Mengentaskan anak-anak bermasalah harus dimulai
dengan mengembalikan fungsi keluarga sesuai nilai-nilai ajaran moral dan
agama.
Fungsi
keluarga akan berjalan dengan baik dimulai dari pembenahan kualitas
calon pasangan suami istri, calon ayah dan ibu dan suami istri. Mereka
hendaklah diberikan pembinaan dan pembekalan memadai supaya paham betul
hak dan kewajiban sebagai seorang ayah dan ibu terhadap anak. Disamping
memahami tangggung jawab mereka dalam melindungi hak-hak anak-anak
mereka. Negara memfasilitasi segala upaya pengembalian fungsi keluarga
terutama ibu pada posisinya semula.
Penutup
Bangsa
ini sedang mengalami krisis rendahnya Sumber Daya Manusia (SDM). Semua
menyadari itu. Bahkan semua sepakat –termasuk negara— akan pentingnya
melahirkan generasi-generasi yang berkualitas, baik dari sisi
pendidikan, sain maupun moral. Generasi seperti itu hanya bisa terwujud
dengan memberikan ruang yang nyaman bagi kaum ibu untuk mendidik
anak-anaknya, khususnya pada usia dini. Sebab pada usia kritis inilah
masa depan anak ditentukan. Untuk itu negara harus memberikan support
demi keberlangsungan peran dan tugas kaum ibu. Inilah saatnya untuk
peduli ibu dan generasi!(*)
In : refleksi