<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="FeedCreator 1.7.2" -->
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <channel>
        <atom:link href="http://doblankplankton.yolasite.com/sukarno/page/sukarno.rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
        <title>sukarno</title>
        <description>sukarno</description>
        <link>http://doblankplankton.yolasite.com/sukarno/page/sukarno.php</link>
        <lastBuildDate>Fri, 05 Jun 2026 22:48:46 +0100</lastBuildDate>
        <generator>FeedCreator 1.7.2</generator>
        <item>
            <title>nawaksara</title>
            <link>http://doblankplankton.yolasite.com/sukarno/page/sukarno/nawaksara</link>
            <description>&lt;div class=&quot;articleEntry&quot;&gt;
		
        &lt;p style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img class=&quot;yui-img&quot; src=&quot;http://doblankplankton.yolasite.com/sukarno/page/resources/soekarno21.jpg&quot; style=&quot;width:325px;&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saudara-saudara sekalian,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dengan mengucap Syukur Alhamdulillah, maka pagi ini saya berada di 
muka Sidang Umum MPRS yang ke-lV. Sesuai dengan Ketetapan MPRS No.I/1960
 yang memberikan kepada diri saya, Bung Karno, gelar Pemimpin Besar 
Revolusi dan kekuasaan penuh untuk melaksanakan Ketetapan-ketetapan 
tersebut, maka dalam Amanat saya hari ini saya ingin mengulangi lebih 
dulu apa yang pernah saya kemukakan dalam Amanat saya di muka Sidang 
Umum ke-ll MPRS pada tanggal 15 Mei 1963, berjudul &quot;Ambeg Parama-Arta&quot; 
tentang hal ini:&lt;br&gt;
Dalam pidato saya &quot;Ambeg Parama-Arta&quot; itu, saya berkata: &quot;MPRS telah 
memberikan KEKUASAAN PENUH kepada saya untuk melaksanakannya, dan dalam 
memberi kekuasaan penuh kepada saya itu, MPRS menamakan saya bukan saja 
Presiden, bukan saja Panglima Tertinggi Angkatan Perang, tetapi 
mengangkat saya juga menjadi: &quot;PEMIMPIN BESAR REVOLUSI INDONESIA&quot;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya menerima pengangkatan itu dengan sungguh rasa terharu, karena 
MPRS sebagai Perwakilan Rakyat yang tertinggi di dalam Republik 
Indonesia, menyatakan dengan tegas dan jelas bahwa saya adalah &quot;Pemimpin
 Besar Revolusi Indonesia&quot;, yaitu: &quot;PEMIMPIN BESAR REPUBLIK RAKYAT 
INDONESIA&quot;!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam pada itu, saya sadar, bahwa hal ini bagi saya membawa 
konsekuensi yang amat besar! Oleh karena seperti Saudara-saudara juga 
mengetahui, PEMIMPIN membawa pertanggungan-jawab yang amat berat 
sekali!!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&quot;Memimpin” adalah lebih berat daripada sekedar &quot;Melaksanakan&quot;. 
&quot;Memimpin&quot; adalah lebih berat daripada sekedar menyuruh melaksanakan&quot;!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya sadar, lebih daripada yang sudah-sudah, setelah MPRS mengangkat 
saya menjadi &quot;Pemimpin Besar Revolusi&quot;, bahwa kewajiban saya adalah amat
 berat sekali, tetapi Insya Allah S.W.T. saya terima&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;pengangkatan sebagai &quot;Pemimpin Besar Revolusi&quot; itu dengan rasa tanggung jawab yang setinggi-tingginya!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya Insya Allah, akan beri pimpinan kepada Indonesia, kepada Rakyat 
Indonesia, kepada Saudara-saudara sekalian, secara maksimal di bidang 
pertanggungan-jawab dan kemampuan saya. Moga-moga Tuhan Yang Maha Kuasa,
 Yang Maha Murah, dan Maha Asih, selalu memberikan bantuan kepada saya 
secukup-cukupnya!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebaliknya, kepada MPRS dan kepada Rakyat Indonesia sendiri, hal ini 
pun membawa konsekuensi! Tempohari saya berkata: &quot;Jikalau benar dan 
jikalau demikianlah Keputusan MPRS, yang saya diangkat menjadi Pemimpin 
Revolusi Besar Indonesia, Revolusi Rakyat Indonesia, maka saya mengharap
 seluruh Rakyat, termasuk juga segenap Anggota MPRS, untuk selalu 
mengikuti, melaksanakan, menfi’ilkan segala apa yang saya berikan dalam 
pimpinan itu! Pertanggungan-jawab yang MPRS, sebagai Lembaga Tertinggi 
Republik Indonesia letakkan di atas pundak saya, adalah suatu 
pertanggungan-jawab yang berat sekali, tetapi dengan ridha Allah S.W.T. 
dan dengan bantuan seluruh Rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya juga 
Saudara-saudara para Anggota MPRS sendiri, saya percaya, bahwa Insya 
Allah, apa yang digariskan oleh Pola Pembangunan itu dalam 8 tahun akan 
terlaksana!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Demikianlah Saudara-saudara sekalian beberapa kutipan daripada Amanat &quot;Ambeg Parama-Arta&quot;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saudara-saudara sekalian,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dari Amanat &quot;Ambeg Parama-Arta&quot; tersebut, dapatlah Saudara ketahui, 
bagaimana visi serta interpretasi saya tentang predikat Pemimpin Besar 
Revolusi yang Saudara-saudara berikan kepada saya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya menginsyafi, bahwa predikat itu adalah sekedar gelar, tetapi 
saya-pun dan dengan saya semua ketentuan-ketentuan progresif 
revolusioner di dalam masyarakat kita yang tak pernah absen dalam 
kancahnya Revolusi kita, saya pun yakin seyakin-yakinnya, bahwa tiap 
Revolusi mensyarat-mutlakkan adanya Pimpinan Nasional. Lebih-lebih lagi 
Revolusi Nasional kita yang multi-kompleks sekarang ini, dan yang 
berhari depan Sosialisme Pancasila. Revolusi demikian tak mungkin tanpa 
adanya pimpinan. Dan pimpinan itu jelas tercermin dalam tri-kesatuannya 
Resopim, yaitu Revolusi, Sosialisme, dan Pimpinan Nasional.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Karena itulah, maka pimpinan yang saya berikan itu adalah pimpinan di
 segala bidang. Dan sesuai dengan pertanggungan-jawab saya terhadap 
MPRS, pimpinan itu terutarna menyangkut garis-garis besarnya. Ini pun 
adalah sesuai dan sejalan dengan kemurnian bunyi aksara dan jiwa 
Undang-Undang Dasar '45, yang menugaskan kepada MPRS untuk menetapkan 
garis-garis besar haluan Negara. Saya tekankan garis-garis besarnya saja
 dari haluan Negara. Adalah tidak sesuai dengan jiwa dan aksara 
kemurnian Undang-Undang Dasar '45, apabila MPRS jatuh terpelanting 
kembali ke dalam alam Liberale democratie, dengan beradu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Debat dengan bertele-tele tentang garis-garis kecil, di mana 
masing-masing golongan beradu untuk memenangkan kepentingan-kepentingan 
golongan dan mengalahkan kepentingan nasional, kepentingan Rakyat 
banyak, kepentingan Revolusi kita!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pimpinan itu pun saya dasarkan kepada jiwa Pancasila, yang telah kita
 pancarkan bersama dalam Manipol-Usdek sebagai garis-garis besar haluan 
Negara. Dan lebih-lebih mendalam lagi, maka saya telah mendasarkan 
pimpinan itu kepada Sabda Rasulullah S.A.W, &quot;Kamu sekalian adalah 
Pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungan-jawabnya 
tentang kepemimpinan itu di hari kemudian.&quot;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sudara-saudara sekalian,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Itulah jiwa daripada pimpinan saya, seperti yang telah saya nyatakan 
dalam Amanat &quot;Ambeg Parama-Arta&quot; tersebut tadi. Dan Saudarasaudara telah
 membenarkan amanat itu, terbukti dengan Ketetapan MPRS No.IV/1963, yang
 menjadikan Resopim dan Ambeg Parama-Arta masing-masing sebagai pedoman 
pelaksanaan garis-garis besar haluan Negara, dan sebagai landasan kerja 
dalam melaksanakan Konsepsi Pembangunan seperti terkandung dalam 
Ketetapan MPRS No.l dan 11 tahun 1960.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Malahan dalam Sidang Umum MPRS ke-ll pada bulan Mei tahun 1963 itu 
Saudara-saudara sekalian telah menetapkan saya menjadi Presiden 
se-umur-hidup. Dan pada waktu itu pun saya telah menjawab keputusan 
Saudara-saudara itu dengan kata-kata: &quot;Alangkah baiknya jikalau nanti 
MPR, yaitu MPR hasil pemilihan-umum, masih meninjau soal ini kembali.&quot; 
Dan sekarang ini pun saya masih tetap berpendapat demikian!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kembali sekarang sebentar kepada Amanat “Ambeg Parama-Arta” tersebut 
tadi itu. Amanat itu kemudian disusul dengan amanat saya &quot;Berdikari&quot; 
pada pembukaan Sidang Umum MPRS ke-lll pada tanggal 11 April 1965, di 
mana dengan tegas saya tekankan tiga hal:&lt;/p&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Trisakti.&lt;br&gt;
    Pertama: Bahwa Revolusi kita mengejar suatu Idee Besar, yakni 
melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat; Amanat Penderitaan Rakyat 
seluruhnya, seluruh rakyat sebulat-bulatnya.&lt;br&gt;
    Kedua: bahwa Revolusi kita berjoang mengemban Amanat Penderitaan 
Rakyat itu dalam persatuan dan kesatuan yang bulat-menyeluruh dan 
hendaknya jangan sampai watak Agung Revolusi kita, diselewengkan 
sehingga mengalami dekadensi yang hanya mementingkan golongann-ya 
sendiri saja, atau hanya sebagian dari Ampera saja!&lt;br&gt;
    Ketiga: bahwa kita dalam melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat itu 
tetap dan tegap berpijak dengan kokoh-kuat atas landasan Trisakti, yaitu
 berdaulat dan bebas dalam politik, berkepribadian dalam kebudayaan dan 
berdikari dalam ekonomi; sekali lagi berdikari dalam ekonomi!
    &lt;p&gt;Saya sangat gembira sekali, bahwa Amanat-amanat saya itu dulu, 
baik &quot;Ambeg Parama-Arta&quot;, maupun &quot;Berdikari&quot; telaK Saudara-saudara 
tetapkan sebagai landasan-kerja dan pedoman pelaksanaan Pembangunan 
Nasional Semesta Berencana untukmasa 3 tahun yang akan datang, yaitu 
sisa jangka-waktu tahapan pertama mulai tahun 1966 s/d 1968 dengan 
landasan &quot;Berdikari di atas Kaki Sendiri&quot; dalam ekonomi. Ini berarti, 
bahwa Lembaga Tertinggi dalam Negara kita, Lembaga Tertinggi dari 
Revolusi kita, Lembaga Negara Tertinggi yang menurut kemurnian jiwa dan 
aksaranya UUD-Proklamasi kita adalah penjelmaan kedaulatan Rakyat, 
membenarkan Amanat-amanat saya itu. Dan tidak hanya membenarkan saja, 
melainkan juga menjadikannya sebagai landasan-kerja serta pedoman bagi 
kita-semua, ya bagi Presiden/Mandataris MPRS/Perdana Menteri ya, bagi 
MPRS sendiri, ya bagi DPA, ya bagi DPR, ya bagi Kabinet, ya bagi 
parpol-parpol dan ormas-ormas, ya bagi ABRI, dan bagi seluruh Rakyat 
kita dari Sabang sampai Merauke, dalam mengemban bersama Amanat 
Penderitaan Rakyat.&lt;/p&gt;
    &lt;p&gt;Memang, di dalam situasi nasional dan internasional dewasa ini, 
maka Trisakti kita, yaitu berdaulat dan bebas dalam politik, 
berkepribadian dalam kebudayaan, berdikari di bidang ekonomi, adalah 
senjata yang paling ampuh di tangan seluruh rakyat kita, di tangan 
prajuritprajurit Revolusi kita, untuk menyelesaikan Revolusi Nasional 
kita yang maha dahsyat sekarang ini.&lt;/p&gt;
    &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Rencana Ekonomi Perjoangan.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;
        Terutama prinsip Berdikari di bidang ekonomi! Sebab dalam 
keadaan perekonomian bagaimanapun sulitnya, saya minta jangan dilepaskan
 jiwa &quot;self-reliance&quot; ini, jiwa percaya kepada kekuatan-diri-sendiri, 
jiwa self-help atau jiwa berdikari. Karenanya, maka dalam melaksanakan 
Ketetapan-ketetapan MPRS No.V dan Vl tahun 1965 yang lalu, saya telah 
meminta Bappenas dengan bantuan dan kerja sama dengan Muppenas, untuk 
menyusun garis-garis lebih lanjut daripada Pola Ekonomi Perjoar gan 
seperti yang telah saya canangkan dalam Amanat Berdikari tahun yang 
lalu.&lt;br&gt;
        Garis-garis Ekonomi Perjoangan tersebut telah selesai, dan saya 
lampirkan bersama ini Ikhtisar Tahunan tentang pelaksanaan Ketetapan 
MPRS No.II/MPRS/1960. Di dalamnya Saudara-saudara akan memperoleh 
gambaran tentang Strategi Umum Pembangunan 2 tahun 1966-1968, yaitu 
Pra-syarat Pembangunan, dan pola Pembiayaan tahun 1966 s/d 1968 melalui 
Rencana Anggaran 3 tahun.&lt;br&gt;&lt;li&gt;Pengertian Berdikari.&lt;/li&gt;&lt;br&gt;
        Khusus mengenai Prinsip Berdikari ingin saya tekankan apa yang 
telah saya nyatakan dalam pidato Proklamasi 17 Agustus 1965, yaitu 
pidato Takari, bahwa berdikari tidak berarti mengurangi, melainkan 
memperluas kerjasama internasional, terutama antara semua negara yang 
baru merdeka.&lt;br&gt;
        Yang ditolak oleh Berdikari adalah ketergantungan kepada 
imperialis, bukan kerja sama yang sama-derajat dan saling me 
nguntungkan.&lt;br&gt;
        Dan di dalam Rencana Ekonomi Perjoangan yang saya sampaikan 
bersama ini, maka Saudara-saudara dapat membaca bahwa: &quot;Berdikari bukan 
saja tujuan, tetapi yang tidak kurang pentingnya harus merupakan prinsip
 dari cara kita mencapai tujuan itu, prinsip untuk melaksanakan 
Pembangunan dengan tidak menyandarkan diri kepada bantuan negara atau 
bangsa lain. Adalah jelas, bahwa tidak menyandarkan diri tidak berarti 
bahwa kita tidak mau kerja sama berdasarkan sama-derajat dan saling 
menguntungkan.&quot;&lt;/ol&gt;
        &lt;p&gt;Dalam rangka pengertian politik Berdikari demikian inilah, 
kita harus menanggulangi kesulitan-kesulitan di bidang Ekubang kita 
dewasa ini, baik yang hubungan dengan inflasi maupun yang hubungan 
dengan pembayaran hutang-hutang luar negeri kita.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Masalah Ekubang tidak dapat dilepaskan dari masalah politik, malahan harus didasarkan atas Manifesto Politik kita.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Dekon kita pun adalah Manipohdi bidang ekonomi, atau dengan 
lain perkataan &quot;political-economy&quot;-nya pembangunan kita. Dekon merupakan
 strategi-umum, dan strategi-umum di bidang pembangunan 3 tahun di depan
 kita, yaitu tahun 1966–1968, didasarkan atas pemeliharaan hubungan yang
 tepat antara keperluan untuk melaksanakan tugas politik dan tugas 
ekonomi. Demikianlah tugas politik-keamanan kita, politik-pertahanan 
kita, politik dalam-negeri kita, politik luar-negeri kita dan 
sebagainya.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Detail dari tugas-tugas ini kiranya tidak perlu 
diperbincangkana dalam Sidang Umum MPRS, karena tugas MPRS ialah 
menyangkut garisgaris besarnya saja. Detailnya seyogyanya ditentukan 
oleh Pemerintah bersama-sama dengan DPR, dalam rangka pemurnian 
pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Sekalipun demikian perlu saya peringatkan di sini, bahwa 
UndangUndang Dasar 1945 memungkinkan Mandataris MPRS bertindak lekas dan
 tepat dalam keadaan darurat demi keselamatan Negara, Rakyat dan 
Revolusi kita.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Dan sejak Dekrit 5 Juli 1959 dulu itu, Revolusi kita terus 
meningkat dan bergerak cepat, yang mau-tidak-mau mengharuskan semua 
Lembaga-lembaga Demokrasi kita untuk bergerak cepat pula tanpa 
menyelewengkan Demokrasi Terpimpin kita ke arah Demokrasi Liberal.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Dalam rangka merintis jalan ke arah kemurnian pelaksanaan 
Undang-Undang Dasar 1945 itulah, saya dengan surat saya tertanggal 4 Mei
 1966 kepada Pimpinan DPRGR memajukan: a. RUU Penyusunan MPR, DPR dan 
DPRD; b. RUU Pemilihan Umum; c. Penetapan Presiden No.3 tahun 1959 jo. 
Penetapan Presiden No.3 tahun 1966 untuk diubah menjadi Undang-Undang 
supaya DPA dapat ditetapkan menurut pasal 16 ayat (1) Undang-Undang 
Dasar 1945.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Tidak lain harapan saya ialah hendaknya MPRS dalam rangka 
pemurnian pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 itu menyadari apa tugas 
dan fungsinya, juga dalam hubungan-persamaan dan perbedaannya dengan MPR
 hasil pemilihan-umum nanti.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Wewenang MPR selaku pelaksanaan kedaulatan Rakyat adalah 
menetapkan Undang-Undang Dasar dan garis-garis besar daripada haluan 
Negara (pasal 3 UUD), serta memilih Presiden dan Wakil Presiden (pasal 6
 UUD ayat 2).&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Undang-Undang Dasar serta garis-garis besar haluan Negara 
telah kita tentukan bersama, yaitu Undang-Undang Dasar Proklamasi 1945 
dan Manipol/Usdek.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Undang-Undang Dasar 1945 itu menyebut pemilihan jabatan 
Presiden dan Wakil Presiden, masa jabatannya serta isi-sumpahnya dalam 
satu nafas, yang tegas bertujuan agar terjamin kesatuan-pandangan, 
kesatuan-pendapat, kesatuan-pikiran dan kesatuan-tindak antara Presiden 
dan Wakil Presiden, yang membantu Presiden (pasal 4 ayat 2 UUD).&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Dalam pada itu, Presiden memegang dan menjalankan tugas, 
wewenang dan kekuasaan Negara serta Pemerintahan. (pasal 4, 5, 10, 11, 
12, 13, 14, 15, 16, 17, ayat 2).&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Jiwa kesatuan antara kedua pejabat Negara ini, serta 
pembagian tugas dan wewenang seperti yang ditentukan dalam Undang-Undang
 Dasar 1945 hendaknya kita sadari sepenuhnya.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Demikian pula hendaknya kita semua, di luar dan di dalam MPRS
 menyadari sepenuhnya perbedaan dan persamaannya antara MPRS sekarang, 
dengan MPR-hasil-pemilihan-umum yang akan datang, agar supaya 
benar-benar kemurnian pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 dapat kita 
rintis bersama, sambil membuka lembaran baru dalam sejarah kelanjutan 
Revolusi Pancasila kita.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Demikianlah Saudara-saudara, teks laporan progress saya 
kepadaMPRS. lzinkanlah saya sekarang mengucapkan beberapa patah kata 
pribadi kepada Saudara-saudara, terutama sekali mengenai pribadi saya.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Lebih dahulu tentang hal laporan progress ini.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Laporan progress itu saya simpulkan dalam sembilan pasal, 
sembilan golongan, sembilan punt. Maka oleh karena itu saya ingin 
memberi judul kepada amanat saya tadi itu. Sebagaimana biasa saya 
memberi judul kepada pidato-pidato saya, ada yang bernama Resopim, ada 
yang bernama Gesuri dan lain-lain sebagainya. Amanat saya ini, saya beri
 judul apa? Sembilan perkara, pokok, pokok, pokok, pokok, saya tuliskan 
di dalam Amanat ini. Karena itu saya ingin memberi nama kepada Amanat 
ini, kepada pidato ini &quot;Pidato Sembilan Pokok&quot;. Sembilan, ya sembilan 
apa? Kita itu biasa memakai bahasa Sanskrit kalau memberi nama kepada 
amanat-amanat, bahkan kita sering memakai perkataan Dwi, Tri, Trisakti, 
dua-duanya perkataan Sanskrit. Catur Prasetia, catur-empat setia, 
kesetiaan, Panca Azimat, Panca adalah lima. Ini sembilan pokok; ini saya
 namakan apa?&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Sembilan di dalam bahasa Sanskrit adalah &quot;Nawa&quot;. Eka, Dwi, 
Tri, Catur, Panca, enam-yam, tujuh-sapta, delapan-hasta, sembilan-nawa, 
sepuluh-dasa. Jadi saya mau beri nama dengan perkataan &quot;Nawa&quot;. &quot;Nawa&quot; 
apa? Ya, karena saya tulis, saya mau beri nama &quot;NAWA AKSARA&quot;, dus &quot;NAWA 
AKSARA&quot; atau kalau mau disingkatkan &quot;NAWAKSARA&quot;. Tadinya ada orang yang 
mengusulkan diberi nama &quot;Sembilan Ucapan Presiden&quot;. &quot;NAWA SABDA&quot;. Nanti 
kalau saya kasih nama Nawa Sabda, ada saja yang salah-salah berkata: 
&quot;Uh, uh, Presiden bersabda&quot;. Sabda itu seperti raja bersabda. Tidak, 
saya tidak mau memakai perkataan &quot;sabda&quot; itu, saya mau memakai perkataan
 &quot;Aksara&quot;; bukan dalam arti tulisan, jadi ada aksara latin, ada aksara 
Belanda dan sebagainya. NAWA AKSARA atau NAWAKSARA, itu judul yang saya 
berikan kepada pidato ini. Saya minta wartawan-wartawan mengumumkan hal 
ini, bahwa pidato Presiden dinamakan oleh Presiden NAWAKSARA.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Kemudian saya mau menyampaikan beberapa patah kata mengenai 
diri saya sendiri. Saudara-saudara semua mengetahui, bahwa tatkala saya 
masih muda, masih amat muda sekali, bahwa saya miskin dan oleh karena 
saya miskin, maka demikianlah saya sering ucapkan: &quot;Saya tinggalkan this
 material world. Dunia jasmani sekarang ini laksana saya tinggalkan, 
karena dunia jasmani ini tidak memberi hiburan dan kepuasan kepada saya,
 oleh karena saya miskin.&quot; Maka saya meninggalkan dunia jasmani ini dan 
saya masuk katagori dalam pidato dan keterangan-keterangan yang sering 
masuk ke dalam world of the mind. Saya meninggalkan dunia yang material 
ini, saya masuk di dalam world of the mind. Dunianya alam cipta, dunia 
khayal, dunia pikiran. Dan telah sering saya katakan, bahwa di dalam 
wolrd of the mind itu, di situ saya berjumpa dengan orang-orang besar 
dari segala bangsa dan segala negara. Di dalam world of the mind itu 
saya berjumpa dengan nabi-nabi besar; di dalam world of the mind itusaya
 berjumpa dengan ahli falsafah, ahli falsafah besar. Di dalam world of 
the mind itu saya berjumpa dengan pemimpin-pemimpin bangsa yang besar, 
dan di dalam world of the mind itu saya berjumpa dengan pejuang-pejuang 
kemerdekaan yang berkaliber besar.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Saya berjumpa denganorang-orang besar ini, tegasnya, jelasnya
 dari membaca buku-buku. Salah satu pemimpin besar daripada sesuatu 
bangsa yang berjuang untuk kemerdekaan, ia mengucapkan kalimat sebagai 
berikut: &quot;The cause of freedom is a deathless cause. The cause of 
freedom is a deathless cause. Perjuangan untuk kemerdekaan adalah satu 
perjuangan yang tidak mengenal mati. The cause of freedom is a deathless
 cause.&quot;&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Sesudah saya baca kalimat itu dan renungkan kalimat itu, 
bukan saja saya tertarik kepada cause of freedom daripada bangsa saya 
sendiri dan bukan saja saya tertarik pada cause of freedom daripada 
seluruh umat manusia di dunia ini, tetapi saya, karena tertarik kepada 
cause of freedom ini saya menyumbangkan diriku kepada deathless cause 
ini, deathless cause of my own people, deathless cause of all people on 
this. Dan lantas saya mendapat keyakinan, bukan saja the cause of 
freedom is a deathless cause, tetapi juga the service of freedom is a 
deathless service. Pengabdian kepada perjuangan kemerdekaan, pengabdian 
kepada kemerdekaan itupun tidak mengenal maut, tidak mengenal habis. 
Pengabdian yang sungguh-sungguh pengabdian, bukan service yang hanya 
lip-service, tetapi service yang betul-betul masuk di dalam jiwa, 
service yang betul-betul pengabdian, service yang demikian itu adalah 
satu deathless service.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Dan saya tertarik oeh saya punya pendapat sendiri, pendapat 
pemimpin besar daripada bangsa yang saya sitir itu tadi, yang berkata 
&quot;the cause of freedom is deathless cause&quot;. Saya berkata &quot;not only the 
cause of freedom is deathless cause, but also the service of freedom is a
 deatheless service&quot;.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Dan saya, Saudara-saudara, telah memberikan, menyumbangkan 
atau menawarkan diri saya sendiri, dengan segala apa yang ada pada saya 
ini, kepada service of freedom, dan saya sadar sampai sekarang: the 
service of freedom is deathless service, yang tidak mengenal akhir, yang
 tidak mengenal mati. Itu adalah tulisan isi hati. Badan manusia bisa 
hancur, badan manusia bisa dimasukkan di dalam kerangkeng, badan manusia
 bisa dimasukkan di dalam penjara, badan manusia bisa ditembak mati, 
badan manusia bisa dibuang ke tanah pengasingan yang jauh dari tempat 
kelahirannya, tetapi ia punya service of freedom tidak bisa ditembak 
mati, tidak bisa dikerangkeng, tidak bisa dibuang di tempat pengasingan,
 tidak bisa ditembak mati.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Dan saya beritahu kepada Saudara-saudara, menurut perasaanku 
sendiri, saya, Saudara-saudara, telah lebih daripada tiga puluh lima 
tahun, hampir empat tahun dedicate myself to this service of freedom. 
Yang saya menghendaki supaya seluruh, seluruh, seluruh rakyat Indonesia 
masing-masing juga dedicate jiwa raganya kepada service of freedom ini, 
oleh karena memang service of freedom ini is a deathless service. Tetapi
 akhirnya segala sesuatu adalah di tangannya&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Tuhan. Apakah Tuhan memberi saya dedicate myself, my all to this service of freedom, itu adalah Tuhan punya urusan.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Karena itu maka saya terus, terus, terus selalu memohon 
kepada Allah S.W.T., agar saya diberi kesempatan untuk ikut menjalankan 
aku punya service of freedom ini. Tuhan yang menentukan. De mens wikt, 
God beslist; manusia bisa berkehendak ,macam-macam Tuhan yang 
menentukan. Demikianpun saya selalu bersandarkan kepada keputusan Tuhan 
itu. Cuma saya juga di hadapan Tuhan berkata: Ya Allah, ya Rabbi, 
berilah saya kesempatan, kekuatan, taufik, hidayat untuk dedicate my 
self to this great cause of freedom and to this great service.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Inilah Saudara-saudara yang saya hendak katakan 
kepadamu;dalam saya pada hari sekarang ini memberi laporan kepadamu. 
Moga-moga Tuhan selalu memimpin saya, moga-moga Tuhan selalu memimpin 
Saudara-saudara sekalian. Sekianlah.&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3 style=&quot;color: #333;&quot;&gt;Nawaksara: Pidato Bung Karno di depan Sidang Umum ke-IV MPRS  22 Juni 1966&lt;/h3&gt;
	&lt;/div&gt;</description>
            <pubDate>Mon, 04 Jun 2012 03:45:05 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>jangan sekali-kali meninggalkan sejarah</title>
            <link>http://doblankplankton.yolasite.com/sukarno/page/sukarno/jangan-sekali-kali-meninggalkan-sejarah</link>
            <description>sekali lagi saya ulangi kalimat ini&lt;br&gt;membuang hasil-hasil positif dari masa yang lampau&lt;br&gt;hal itu tidak mungkin&lt;br&gt;sebab kemajuan yang kita miliki sekarang iniada&lt;br&gt;lah akumulasi dari pada hasil-hasil&lt;br&gt;perjuangan di masa lampau&lt;br&gt;&lt;br&gt;seorang pemimpin yaitu Abraham Lincoln berkata :&lt;br&gt;&quot; One cannot escape history &quot;&lt;br&gt;orang tidak dapat melepasan diri dari sejarah&lt;br&gt;sayapun berkata demikian&lt;br&gt;tetapi saya tambah, bukan saja&lt;br&gt;&quot; One cannot escape history &quot;&lt;br&gt;tetapi saya tambah &quot; Never leave history &quot;&lt;br&gt;jangan sekali-kali meninggalkan sejarah&lt;br&gt;&lt;br&gt;jangan sekali-kali meninggalkan sejarah !!!&lt;br&gt;jangan sekali-kali meninggalkan sejarah mu yang sudah&lt;br&gt;hai bangsaku, karena jika engkau meninggalkan yang sudah&lt;br&gt;engkau akan berdiri di atas vacuum&lt;br&gt;engkau akan berdiri di atas kekosongan&lt;br&gt;lantas engkau menjadi bingung dan perjuanganmu&lt;br&gt;paling-paling hanya akan berupa amuk&lt;br&gt;amuk belaka&lt;br&gt;amuk, seperti era kejepit didalam gelap&lt;br&gt;


&lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style addthis_25x25_style&quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_1&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_2&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_3&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_4&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_compact&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_bubble_style&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</description>
            <pubDate>Wed, 09 Nov 2011 18:50:17 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>aku melihat INDONESIA</title>
            <link>http://doblankplankton.yolasite.com/sukarno/page/sukarno/aku-melihat-indonesia</link>
            <description>jikalau aku berdiri di pantai Ngliyep&lt;br&gt;aku mendengar lautan Hindia bergelora&lt;br&gt;membanting di pantai Ngliyepaku&lt;br&gt;mendengar lagu, sajak Indonesia&lt;br&gt;&lt;br&gt;jikalau aku melihat&lt;br&gt;sawah-sawah yang menguning-menghijau&lt;br&gt;aku tidak melihat lagi &lt;br&gt;batang-batangpadi yang menguning-menghijau&lt;br&gt;aku melihat Indonesia&lt;br&gt;&lt;br&gt;jikalau aku melihat gunung-gunung&lt;br&gt;gunung Merapi, gunung Semeru, gunung Merbabu&lt;br&gt;gunung Tangkuban Perahu, gunung Kelebet&lt;br&gt;dan gunung-gunung yang lain&lt;br&gt;aku melihat Indonesia&lt;br&gt;&lt;br&gt;jikalau aku mendengarkan&lt;br&gt;lagu-lagu yang merdu dari Batak&lt;br&gt;bukan lagi lagu Batak yang kudengarkan&lt;br&gt;aku mendengarkan Indonesia&lt;br&gt;&lt;br&gt;jikalau aku mendengarkan Pangkur Palaran&lt;br&gt;bukan lagi Pangkur Palaran yang kudengarkan&lt;br&gt;aku mendengar Indonesia&lt;br&gt;&lt;br&gt;jikalau aku mendengarkan lagu Olesio dari Maluku&lt;br&gt;bukan lagi aku mendengarkan lagu Olesio&lt;br&gt;aku mendengar Indonesia&lt;br&gt;&lt;br&gt;jikalau aku mendengarkan burung perkutut&lt;br&gt;menyanyi di pohon ditiup angin yang sepoi-sepoi&lt;br&gt;bukan lagi aku mendengarkan burung perkutut&lt;br&gt;aku mendengarkan Indonesia&lt;br&gt;&lt;br&gt;jikalau aku menghirup udara ini&lt;br&gt;aku tidak lagi menghirup udara&lt;br&gt;aku menghirup Indonesia&lt;br&gt;&lt;br&gt;jikalau aku melihat wajah anak-anak&lt;br&gt;di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar&lt;br&gt;&quot; Pak Merdeka, Pak Merdeka, Pak Merdeka ! &quot;&lt;br&gt;aku bukan lagi melihat mata manusia&lt;br&gt;aku melihat Indonesia&lt;br&gt;&lt;br&gt;(dikutip dari &quot; Bung Karno dan Pemuda &quot;)


&lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style addthis_25x25_style&quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_1&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_2&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_3&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_4&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_compact&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_bubble_style&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;


&lt;!-- AddThis Button END --&gt;</description>
            <pubDate>Sat, 05 Nov 2011 17:47:28 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>cari sendiri</title>
            <link>http://doblankplankton.yolasite.com/sukarno/page/sukarno/cari-sendiri</link>
            <description>het hoe&lt;br&gt;kita harus cari sendiri&lt;br&gt;het hoe&lt;br&gt;bagaimana itu harus kita harus cari sendiri&lt;br&gt;sistem-sistem apa yang harus kita pakai&lt;br&gt;&lt;br&gt;tidak bisa saudara teorikan&lt;br&gt;apalagi dengan membuka&lt;br&gt;hanya dengan membuka saja textbook-textbook&lt;br&gt;sampai saudara punya kepala botak&lt;br&gt;tidak akan saudara bisa menemukan het hoe itu&lt;br&gt;&lt;br&gt;tetapi kita harus cipta sendiri&lt;br&gt;cari sendiri&lt;br&gt;this is revolution&lt;br&gt;revolusi adalah mencari saudara-saudara&lt;br&gt;tidak ada revolusi yang sudah ready for use&lt;br&gt;tidak, cari sendiri&lt;br&gt;&lt;br&gt;tidak ada satu revolusi&lt;br&gt;atau dua revolusi yang sama&lt;br&gt;&lt;br&gt;jangan kira revolusi Indonesia itu sama dengan revolusi Sovyet&lt;br&gt;jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Mesir&lt;br&gt;jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Kuba&lt;br&gt;jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi RRC&lt;br&gt;jangan kira revolusi Indonesia sama dengan revolusi Mexico&lt;br&gt;&lt;br&gt;revolusi adalah milik dan tugas kewajiban bangsa&lt;br&gt;dan kewajiban dari pada bangsa itu ialah mencari sendiri&lt;br&gt;jangan menjiplak, oleh karena tidak bisa dijiplak&lt;br&gt;&lt;br&gt;kalau saya atau kita menjiplak revolusi Mexico&lt;br&gt;bubrah revolusi kita&lt;br&gt;kalau saya atau kita menjiplak revolusi United Arab Republik&lt;br&gt;bubrah revolusi kita&lt;br&gt;kalau saya atau kita menjiplak revolusi Yugoslavia&lt;br&gt;bubrah revolusi kita&lt;br&gt;kalau saya atau kita menjiplak revolusi Polandia&lt;br&gt;bubrah revolusi kita&lt;br&gt;kalau saya atau kita menjiplak revolusi Uni Sovyet&lt;br&gt;bubrah revolusi kita&lt;br&gt;kalau saya atau kita menjiplak revolusi Amerika, 1776 dulu itu&lt;br&gt;bubrah revolusi kita&lt;br&gt;&lt;br&gt;tidak, kita harus mencari sendiri&lt;br&gt;&lt;br&gt;


&lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style&quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_1&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_2&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_3&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_4&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_compact&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_bubble_style&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;


&lt;!-- AddThis Button END --&gt;</description>
            <pubDate>Sat, 05 Nov 2011 18:21:52 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>PUTRA SANG FAJAR</title>
            <link>http://doblankplankton.yolasite.com/sukarno/page/sukarno/putra-sang-fajar</link>
            <description>abad ini adalah suatu zaman dimana bangsa-bangsa baru dan merdeka di benua Asia dan Afrika mulai berkembang&lt;br&gt;berkembangnya negara-negara sosialis yang meliputi seribu juta manusia&lt;br&gt;abad inipun dinamakan abad atom dan abad ruang angkasa&lt;br&gt;&lt;br&gt;dan mereka yang dilahirkan dalam Abad Revolusi kemanusiaan ini terpikat oleh suatu kewajiban untuk menjalankan tugas-tugas kepahlawanan&lt;br&gt;&lt;br&gt;hari lahirku ditandai oleh angka serba enam&lt;br&gt;tanggal enam bulan enam&lt;br&gt;adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang gemini&lt;br&gt;lambang kekembaran&lt;br&gt;dan memang itulah sesungguhnya&lt;br&gt;dua sifat yang berlawanan&lt;br&gt;aku bisa lunak dan aku bisa cerewet&lt;br&gt;aku bisa keras dan laksana baja dan aku bisa lembut berirama&lt;br&gt;pembawaanku adalah paduan daripada pikiran sehat getara perasan&lt;br&gt;aku seorang yang suka memaafkan, akan tetapi akupun seorang yang keras kepala&lt;br&gt;aku menjebloskan musuh-musuh negara ke belakang jerajak besi&lt;br&gt;namun demikian aku tidak sampai hati membiarkan burung terkurung di dalam sangkar&lt;br&gt;&lt;br&gt;aku menjatuhkan hukuman mati&lt;br&gt;namun aku tak pernah mengangkat tangan untuk memukul mati seekor nyamuk&lt;br&gt;sebaliknya aku berbisik kepada binatang itu&lt;br&gt;&quot; hayo, nyamuk, pergilah, jangan kau gigit aku &quot;&lt;br&gt;&lt;br&gt;karena aku terdiri dari dua belahan&lt;br&gt;aku dapat memperlihatkan segala rupa&lt;br&gt;aku dapat mengerti segala pihak&lt;br&gt;aku memimpin semua orang&lt;br&gt;boleh jadi ini secara kebetulan bersamaan&lt;br&gt;boleh jadi juga pertanda lain&lt;br&gt;akan tetapi kedua belah dari watakku itu&lt;br&gt;menjadikanku seorang yang merangkul semuanya&lt;br&gt;&lt;br&gt;ibu telah memberikan pangestu kepadaku&lt;br&gt;ketika aku berumur beberapa tahun&lt;br&gt;dipagi itu ia sudah bangun sebelum matahari terbit&lt;br&gt;dan duduk di dalam gelap di beranda muka kami yang kecil&lt;br&gt;tiada bergerak &lt;br&gt;ia tidak berbuat apa-apa&lt;br&gt;ia tiada berkata apa-apa&lt;br&gt;hanya memandang ke arah timur&lt;br&gt;dan dengan sabar menantikan hari akan siang&lt;br&gt;&lt;br&gt;akupun bangun dan mendekatinya&lt;br&gt;diulurkannya kedua belah tangannya&lt;br&gt;dan meraih badanku yang kecil ke dalam pelukannya&lt;br&gt;sambil mendekapkan tubuhku ke dadanya&lt;br&gt;ia memelukku dengan tenang&lt;br&gt;kemudian ia berbicara dengan suara lunak&lt;br&gt;&quot; engkau sedang memandang fajar nak&lt;br&gt;ibu katakan&amp;nbsp; kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita&lt;br&gt;karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi disaat fajar mulai menyingsing&lt;br&gt;kita orang jawa mempunyai satu kepercayaan bahwa orang yang dilahirkan disaat matahari terbit nasibnya telah ditakdirkan terlebih dahulu&lt;br&gt;jangan lupakan itu&lt;br&gt;jangan sekali-kali kau lupakan nak&lt;br&gt;bahwa engkau ini putra Sang Fajar &quot;&lt;br&gt;&lt;br&gt;bersamaan dengan kelahiranku&lt;br&gt;menyingsinglah fajar dari hari yang baru&lt;br&gt;dan menyingsing pulalah fajar dari satu abad yang baru&lt;br&gt;karena aku dilahirkan ditahun 1901&lt;br&gt;&lt;br&gt;bagi bansa Indonesia abad ke sembilan belas merupakan zaman yang gelap&lt;br&gt;sedangkan zaman sekarang baginya adalah&lt;br&gt;zaman yang terang-benderang dalam menaiknya pasang revolusi kemerdekaan&lt;br&gt;&lt;br&gt;masih ada pertanda lain ketika aku dilahirkan&lt;br&gt;gunung Kelud yang tidak jauh letaknya dari tempat kami meletus&lt;br&gt;orang yang percaya kepada tahyul meramalkan&lt;br&gt;&quot; ini adalah penyambutan terhadap bayi Sukarno &quot;&lt;br&gt;&lt;br&gt;sebaliknya orang Bali mempunyai kepercayaan lain&lt;br&gt;kalau gunung Agung meletus ini berarti bahwa telah melakukan maksiat&lt;br&gt;jadi orangpun dapat mengatakan bahwa gunung Kelud sebenarnya tidak menyambut bayi Sukarno&lt;br&gt;gunung Kelud malah menyatakan kemarahannya&lt;br&gt;karena anak yang yang jahat lahir ke muka bumi ini&lt;br&gt;berlainan dengan pertanda-pertanda yang mengiringi kelahiran itu&lt;br&gt;maka kelahiran itu sendiri sangatlah menyedihkan&lt;br&gt;Bapak tidak mampu memanggil dukun untuk menolong anak yang akan lahir&lt;br&gt;&lt;br&gt;keadaan kami terlalu ketiadaan&lt;br&gt;satu-satunya orang menghadapi itu ialah seorang kawan dari keluarga kami&lt;br&gt;seorang kakek yang sudah terlalu amat tua&lt;br&gt;dialah dan tidak ada orang lain selain orang tua itu&lt;br&gt;yang menyambutku menginjak dunia ini&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;(dikutip dari &quot; Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat &quot;)&lt;br&gt;&lt;br&gt;


&lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;
&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style addthis_32x32_style&quot;&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_1&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_2&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_3&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_4&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_button_compact&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;a class=&quot;addthis_counter addthis_bubble_style&quot;&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;


&lt;!-- AddThis Button END --&gt;</description>
            <pubDate>Sat, 05 Nov 2011 18:20:24 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>.......</title>
            <link>http://doblankplankton.yolasite.com/sukarno/page/sukarno/-oct-27-2011-2-12-46-pm-46</link>
            <description>&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img class=&quot;yui-img&quot; src=&quot;http://doblankplankton.yolasite.com/sukarno/page/resources/surat.jpg&quot; style=&quot;width:325px;&quot;&gt;&lt;/div&gt;</description>
            <pubDate>Thu, 27 Oct 2011 14:12:46 +0100</pubDate>
        </item>
    </channel>
</rss>
